Karya Siswa Menggali Numerasi dalam Budaya Lokal: Proyek Etnomatematika Kelas 4 dan 5
Mengubah Konsep Matematika Menjadi Kekayaan Budaya
(Cipayung Kota Depok, 4 November 2025)
Tim Literasi Sekolah SDIT Mawaddah sukses memfasilitasi Proyek Literasi Numerasi berbasis Etnomatematika yang diikuti oleh 22 peserta didik gabungan kelas 4 dan 5. Proyek ini bertujuan membuktikan bahwa Matematika tidak hanya dijumpai dalam rumus buku, tetapi juga hidup dan melekat dalam warisan budaya, arsitektur, dan permainan tradisional.
Literasi Numerasi adalah salah satu indikator kunci dalam Rapor Pendidikan Nasional. Urgensi proyek ini terletak pada dua aspek utama:
- Peningkatan Kompetensi Numerasi: Melalui proyek ini, siswa didorong untuk mengaplikasikan konsep-konsep matematika—seperti geometri, pengukuran, pola, dan perbandingan—dalam konteks nyata dan bermakna. Hal ini secara langsung meningkatkan kemampuan penalaran kuantitatif, yang merupakan inti dari Asesmen Kompetensi Minimum (AKM).
- Penguatan Karakter Lokal: Proyek Etnomatematika mengintegrasikan pembelajaran kognitif dengan nilai-nilai lokal. Dengan mengkaji budaya Betawi dan Depok, siswa tidak hanya belajar matematika tetapi juga menumbuhkan apresiasi dan kecintaan terhadap identitas daerah mereka.
Proyek ini dilaksanakan oleh 14 murid perempuan dan 8 murid laki-laki, didampingi oleh 1 Guru Pendamping Umum dan 1 Guru Koordinator (sekaligus pendamping tim putra) yang berasal dari Tim Literasi Sekolah.
Dimulai dari bulan Oktober 2025 perwakilan murid kelas 4 dan 5 mengikuti pelatihan dan eksplorasi konsep. Mereka mendapatkan materi etnomatematika melalui Learning Management System (LMS) dan diskusi kelas, memetakan potensi numerasi dalam budaya lokal. Setelah itu, dengan guru pembimbingnya diarahkan melakukan riset dan investigasi. Siswa dibagi menjadi tiga tim. Mereka melakukan riset mendalam, termasuk pencarian sumber digital, analisis visual, hingga wawancara dengan narasumber (seperti pengrajin atau budayawan) untuk mendapatkan data dan konteks yang akurat. Data yang terkumpul disintesis menjadi karya akhir berupa Poster Infografis yang disebut Etnomatematika yang menarik dan informatif, menggabungkan visualisasi data dan penjelasan konsep numerasi.
Tiga tim berhasil menghasilkan poster infografis yang memukau, masing-masing berfokus pada tema yang berbeda dengan mengambil kearifan lokal Kota Depok dimana mereka tinggal dan bersekolah.
Tim 1 putri (7 orang) dengan karya arsitektur dan teknologi membuat poster berjudul “Etnomatematika Rumah Kebaya Khas Betawi”. Konsep matematika yang ditemukan adalah geometri, pola, pengukuran (rasio tiang, atap), sumbu simetri, perbandingan skala.
Tim 2 putri (7 orang) dengan karya permainan dan hiburan membuat poster berjudul “Asyiknya Bermain Lompat Tali”. Konsep matematika yang ditemukan adalah pengukuran (panjang tali, jarak lompatan), probabilitas (kesempatan berhasil/gagal), konsep waktu dan kecepatan.
Tim 3 putra (8 orang) dengan karya kesenian dan kerajinan membuat poster berjudul “Batik Belimbing Dewa Kreasi Khas Depok”. Konsep matematika yang ditemukan adalah transformasi geometri (translasi, rotasi pada motif), simetri putar dan lipat, pola berulang, dan satuan luas.
Proyek Etnomatematika ini membuktikan bahwa pembelajaran numerasi menjadi sangat efektif ketika disajikan dalam konteks yang relevan dan bermakna.
- Peningkatan Relevansi Belajar: Proyek ini berhasil mengubah persepsi siswa bahwa Matematika adalah mata pelajaran yang abstrak. Siswa menjadi lebih antusias dan termotivasi (sesuai hasil observasi sikap) karena dapat melihat aplikasi langsung konsep numerasi dalam kehidupan dan budaya mereka.
- Integrasi Keterampilan: Kegiatan ini sukses mengintegrasikan berbagai keterampilan abad ke-21, yaitu Literasi Numerasi, Literasi Digital (riset online), Komunikasi (wawancara dan presentasi infografis), serta Kolaborasi (kerja tim).
- Penguatan Dimensi Profil Lulusan : Secara keseluruhan, proyek ini menguatkan Profil Pelajar Pancasila, khususnya dimensi bernalar kritis dan berkebinekaan global melalui pemahaman budaya lokal.
Kami berharap proyek semacam ini dapat terus dikembangkan untuk mencetak generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga bangga dan paham akan kekayaan budaya bangsanya.
[Lily Suliyatiningrum]










